Sejarah TUBABA



Pada tahun 1997 Kabupaten Lampung Utara mengalami pemekaran wilayah dan menghasilkan baru bernama Kabupaten Tulang Bawang. Seiring berjalannya waktu lahir kembali Kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Tulang Bawang pada tahun 2009 yang bernama Kabupaten Tulang Bawang Barat. Namun sebelum kemerdekaan RI, wilayah ini disebut sebagai Mego Pak Tulang Bawang yang mendiami sepanjang aliran sungai Way Kanan dan Wai Kiri. Wilayah Mego Pak Tulang Bawang didiamioleh empat marga; Marga Tegamoan, Marga Buay Bulan, Marga Suwai Umpu dan Marga Aji. Terdapat sebelas tiyuh yang mendiami tepi-tepi sungai Way Kanan dan Way Kiri hingga saat ini, diantaranya Karta, Gunung Katun Tanjungan, Gunung Katun Malay, Gedung Ratu, Panaragan, Bandar Dewa, Megala Emas,Penumangan, Pagardewa, Gunung Terang, dan Gunung Agung. Tulang Bawang Barat adalah kabupaten di dalam perkebunan di pedalaman Sumatera Selatan yang membuatnya menjadi bukan lintasan, dan juga bukan tujuan pariwisata. Tetapi geliatnya sebagai Kabupaten muda sudah mampu menyedot perhatian masyasarakat sekitar, bahkan nasional karena faktor-faktor unik dan menarik yang dimilikinya.


Secara geografis Kabupaten Tulang Bawang Barat dibagi menjadi dua kawasan utama yang terbelah oleh sungai. Di sisi Selatan Sungai terdapat tiga kecamatan, yaitu Tulang Bawang Tengah, Tumijajar, dan Tulang Bawang Udik. Selebihnya enam kecamatan berada di Utara sungai yaitu Pagardewa, Lambu Kibang, Batu Putih, Gunung Terang, Gunung Agung, dan Way Kenanga. Kini sembilan kecamatan dibawah Kabupaten Tulang Bawang Barat terdapat 97 tiyuh dan 3 kelurahan. Pemimpin kelurahan atau lurah ditunjuk oleh Bupati, sedangkan kepala tiyuh dipilih oleh masyarakat.


Masyarakat Lampung memiliki falsafah hidup piil-pesenggiri (berpendirian teguh), nemui-nyimah (ramah terhadap tamu), nengah-nyampur (mudah bergaul), bejuluk-beadek (memiliki status yang jelas), dan sakai-sambaian (gotong royong). Falsafah bijak yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu ini akan dipegang teguh terus sebagai landasan karakter masyarakat. Sedangkan untuk bergerak maju membangun masa depan, falsafah warga Tubaba adalah “Nenemo” (nemen, nedes, nrimo). Nemen berarti bekerja keras, nedes adalah tahan banting atau tidak mudah menyerah, sedangkan nrimo bermakna keikhlasan. Nenemo ini kemudianmenjadi nilai-nilai yang ditularkan kepada masyarakat Tulang Bawang Barat melalui berbagai program.


Falsafah-falsafah yang berasal dari budaya Lampung, dari Baduy, serta nilai-nilai baru inilah yang akan mendasari pembangunan untuk menjadi Tubaba masa depan, termasuk pembangunan arsitekturnya. Hal ini menginisiatifkan pemimpin daerah untuk mengajak arsitek-arsitek di Indonesia untuk terlibat merancang dan membangun di Tubaba seperti arsitek Andra Matin yang karya terbangun Islamic Centernya telah menjadi generator percepatan pembangunan dan perkembangan Tubaba. Kemudian ada Danny Wicaksono yang akan membangun Uluan Nughik, sebuah kawasan ruang hidup baru bagi masyarakat Tubaba, Yori Antar yang telah merancang masterplan Rumah Adat dan membangun sekolah, Gede Kresna untuk Rumah Badik dan museum Etnografi, Adi Purnomo untuk Tubabon, juga tim arsitek Labwrks atas rancangannya kantor terpadu lewat kemenangan sayembera. Ada lagi Andi Rahmat bersama Nusae yang berkolaborasi dengan beberapa pelaku kreatif lainnya membuat media komunikasi baik untuk bangunan, kawasan, dan branding daerah yang komprehensif, dan kreatif-kreatif lainnya di masa mendatang.


Terjadinya rancangan arsitektur dan pembangunannya bisa berangkat dari berbagai cara atau momentum yang berbedabeda. Bahkan kadang, tidak terduga. Termasuk bagaimana Andra Matin, salah satu arsitek terkemuka Indonesia menghasilkan karya-karya terbaiknya di kabupaten muda, Tulang Bawang Barat, Propinsi Lampung ini. Pertemuan antara Bupati Tulang Bawang Barat dengan arsitek Andra Matin terbilang cukup unik. Singkat cerita, Bapak Umar Ahmad berkunjung ke rumah Andra Matin di Bintaro, Jakarta dan ia terkesan dengan pertemuan ini. Selain merasakan pengalaman ruang dan bentuk arsitektur dari rumah Andra Matin yang dirasanya sangat khas, ia juga terkesan dengan ide-ide segar tentang desain arsitektur yang dikemukakan oleh Andra Matin. Dua minggu kemudian, Andra Matin mengunjungi Tulang Bawang Barat dan mulai mendesain. Usulan Andra Matin pada saat itu ialah tidak hanya membuat bangunan yang berdiri sendiri, tetapi bangunan yang berada di dalam sebuah rancangan masterplan. Di dalam rancangan masterplan inilah berdiri dua bangunan utama; Masjid As Sobur dan Balai Sesat yang didukung dengan taman, kolam besar, trotoar lebar, koridor-koridor panjang, tempat parkir, pusat jajan, dan, cenderamata, sebagai satu kesatuan fasilitas publik dalam satu masterplan.


Masjid As Sobur berada di dalam kompleks Islamic Center Tubaba. Bangunan ini adalah desain pertama yang dirancang oleh tim arsitek andramatin untuk Kabupaten Tulang Bawang Barat. Tim arsitek andramatin dipilih karena Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahmad tertarik dengan desain arsitektur dan pemikiran Andra Matin yang dinilainya berbeda dan memiliki kedalaman konsep. Hal ini sesuai dengan misi Bupati Umar Ahmad yang ingin membawa kabupaten Tulang Bawang Barat menjadi kabupaten unggul, lewat berbagai cara, termasuk pembangunan fisik dan infrastruktur. Bangunan yang juga berfungsi sebagai minaret (tempat pengeras suara untuk mengumandangkan azan) berdiri lurus tegak setinggi 30 meter yang melambangkan 30 Juz Al-Quran. Lima sisi menara merupakan simbol dari shalat lima waktu yang wajib dilakukan setiap umat Islam setiap hari sebagai tiang\r\nagama. Jajaran kolom pada koridor berjumlah sama dengan jumlah surah yang ada dalam Al-Quran, yakni 114. Pada langit-langit bangunan menara terdapat 99 lubang cahaya di atap menara yang betuliskan asmaul husna, 99 nama Allah dalam aksara Arab. Tepat pada tengah hari, bayangan sinar matahari yang jatuh ke bawah membiaskan tulisan nama naman suci Allah ke dinding dinding-dinding menara yang gelap. Terasa syahdu dan sakral. \r\n


Selain masjid, di dalam komplek Islamic Center dibangun juga bangunan multifungsi untuk kegiatan-kegiatan adat dan budaya, yang disebut sebagai Sessat Agung. Dengan Luas bangunan: 1920 m2, awalnya bangunan ini juga didesain tim arsitek andramatin dengan material beton, tetapi Bupati Umar Ahmad mengusulkan dari bahan material lain, agar tidak terlalu terkesan sama ‘keras’, sehingga kemudian kayu ulin dipilih sebagai material utama yang menampilkan ekspresi bangunan. Seperti halnya masjid yang tepat berada di samping bangunan Sessat Agung, unsur-unsur lokal juga diterapkan sebagai inspirasi desain bangunan ini. Bentuk bangunan Sessat Agung mengambil bentuk rumah panggung beratap pelana seperti rumah-rumah yang ditemui di kampung-kampung adat Tulang Bawang Barat. Sessat Agung dirancang sebagai \r\nbangunan dua lantai dengan pembagian zoning kegiatan yang jelas, lantai atas adalah ruang terbuka dirancang tanpa sekat untuk kegiatan komunal multifungsi. Sedangkan lantai dasar di desain empat ruangan terpisah; satu untuk toilet, dan tiga ruangan kantor


Setelah Islamic Center selesai dibangun dan mulai dikenal oleh khalayak, daya pikat Tulang Bawang Barat pun tidak dapat dielakkan lagi. Banyaknya plat-plat mobil luar area yang mulai berdatangan menjadi bukti. Belum lagi kunjungan kerja pejabat pemerintah daerah lain, ataupun kolega pribadi sang bupati.Melihat fenomena itu, Umar Ahmad pun berpikir bahwa mereka harus memiliki \\r\\npenginapan yang layak. Adalah Berugo Cottage, terletak di belakang kompleks Islamic Center yang dirancang oleh Andra Matin. Berdampingan dengan hutan karet, penginapan ini tidak terlihat dari jalanan. Alih-alih menggunakan penanda jelas lokasi, arsitek malah menyuguhkan batu raksasa ala Tulang Bawang Barat di \\r\\nhalaman hotel. Ditambah dengan tatanan pohon bonsai di pot-pot berukuran besar yang terukir falsafah hidup orang \\r\\nTubaba, yaitu nenemo. Lalu, berjalan menuju bangunan utama, kejutan demi kejutan pun dihadirkan oleh sang arsitek. Permainan sirkulasi yang menjadi ciri khas \\r\\nAndra Matin juga diterapkan dalam desain Berugo Cottage ini.


Dalam perjalanan ‘menuju Tubaba’, satu per satu kebutuhan daerah pun diadakan, terutama agar roda perekonomian juga berputar. Salah satu infrastruktur yang \r\nkeberadaannya menjadi kunci penting adalah pasar – ruang publik dimana terjadinya jual-beli dan kaya akan proses interaksi. Salah satunya adalah Pasar Pulung Kencana yang ingin dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan daerah. Bahkan, pasar ini direncanakan untuk menjadi sentra ekonomi utama bagi Kabupaten Tubaba. Ditambah lagi, \r\nharapan Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahmad, untuk membuat tempat ini bukan hanya menjadi tempat transaksi komersial, melainkan juga destinasi wisata, yaitu wisata belanja atau wisata pasar. Berlokasi di Kecamatan Pulung Kencana, lokasi pasar adalah tempat pasar lama. Lokasinya berada di tengah-tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat. Elemen yang paling menarik perhatian dari bangunan Pasar Pulung adalah kolom-kolom menjulang yang menopang atap. Kolom-kolom ini rupanya merupakan ekspresi dari kanopi dahan-dahan pohon karet yang merupakan alam khas di daerah Tulang Bawang Barat. Kolom-kolom ini \r\ndilengkapi dengan sistem drainase dan sistem pengumpulan air hujan.


Kabupaten Tulang Bawang Barat meliputi areal daratan seluas 1.201,15 KM Persegi terletak pada bagian utara Provinsi Lampung, berdekatan dengan Kabupaten Mesuji dan Tulang Bawang. Ibukota Kabupaten Tulang Bawang Barat adalah Kelurahan Metro, Kecamatan Metro Pusat. Topografi Kabupaten Tulang Bawang Barat berada ini berkisar antara 13 meter sampai 56 meter dari permukaan laut, Pada umumnya klimatologi Kabupaten Tulang Bawang Barat sama dengan klimatologi Provinsi Lampung. Wilayah terluas yang terdapat pada Kabupaten Tulang Bawang Barat adalah Kecamatan Tulang Bawang Tengah dengan luas sebesar 22,89% dari luas total 1.201,15 KM Persegi.